Perjalanan selanjutnya adalah berlayar menggunakan kapal, mampir dari satu pulau ke pulau yang lain hingga tujuan akhir Pulau Rinca dan Pulau Komodo.
Dalam bayangan, kapal yang akan digunakan adalah kapal dengan mesin ber-pk kecil, mudah goyang disapu ombak, atau perahu nelayan yang ditutup terpal.
Salah besar, Sungguh salah besar! Kapal yang kami naiki kali ini ternyata sangat mewah (untuk ukuran pejalan amatiran yang belum pernah naik kapal besar kecuali kapal ferry)
Bayangkan sebuah kapal kayu besar tiga tingkat dengan panjang kurang lebih 25 meter.
Tingkat paling dasar adalah palka dengan enam kamar tidur berkasur kapuk yang masing-masing berpendingin ruangan!
Di atasnya terdapat ruang terbuka dengan meja dan kursi panjang lengkap dengan bantal, berjejer di sisi kiri dan kanan. Karena letaknya yang strategis di tengah kapal, ruangan ini paling sering kami gunakan untuk berkumpul sekedar duduk-duduk mengobrol atau makan.
Serasa masih belum cukup terkejut, kami dibuat terharu dengan kulkas yang nyempil di pojokan yang penuh berisi minuman ringan, buah dan air dingin. (Cat : Baru kali ini kami jalan bisa minum air dingin tinggal tuang, tanpa perlu mencari warung)
Buritan belakang terdapat serambi yang dilengkapi empat kursi santai, televisi besar layar datar dan perangkat audio komplit!
Selain itu kapal juga dilengkapi dua kamar mandi dengan shower air tawar. Benar-benar “Fasilitas Bintang tiga di atas kapal kayu ukuran dua puluh lima” ujar seorang kawan.
Kapal ini bernama ”Fadaelo”, yang dalam Bahasa Bugis artinya ”suka sama suka.” Kapten kapal, yang juga turunan Bugis, bernama Bang Fadli. Kapten dibantu 2 (dua) ABK yang selain terampil mengurus kapal ternyata juga pandai memasak. Tampang para ABK bolehlah hitam legam dan sangar, tapi masakan yang mereka sajikan, kalau meniru istilah Pak Bondan, sungguh maknyuss.
Tujuan pelayaran yang pertama adalah Pulau Sabolon. Pulau kecil dengan pantai cantik dan bukit kecil.
Fada Elo tidak bisa merapat ke bibir pantai, sehingga kami harus ”berenang permukaan” (snorkling) menuju ke sana. Vegetasi bawah airnya sungguh sangat menawan hati, bagus dan alami. Koral terlihat rimbun, ikan-ikan kecil terlihat sehat dan lincah. Bahkan saya sempat bertemu dengan manta atau ikan pari berukuran sedang yang berenang di sekitar pulau.
Selanjutnya Pulau Seraya kecil. Pulau ini lebih besar dibandingkan Pulau Sebolon. Berbeda dengan Pulau Sebolon yang tidak berpenduduk, Seraya Kecil memiliki resort yang menyediakan pondokan-pondokan untuk menginap. Resort dijalankan oleh penduduk sekitar pulau.
Bila diperhatikan, bentang alam pulau-pulau di Laut Flores hampir identik, Pulau dengan kontur berbukit. Begitu juga Seraya Kecil, Bukitnya ditumbuhi rumput dan ilalang. Sementara yang lain asyik menyelam dan bermain di pantai, beberapa dari kami mendaki ke puncak bukit.
Pertama kali sampai di puncaknya, dalam pikiran saya langsung teringat dan terbayang pemandangan alam seperti di serial tv jaman dulu berjudul “Little House on the Prairie.” … indah betul!
Pemandangan cantik, dari atas bukit berumput dengan selang seling batu-batu besar dan pohon yang meranggas. Dari situ kita bisa melihat teluk kecil Seraya, lautan dan pulau-pulau yang seperti terserak dan cakrawala yang membentang di ujung mata memandang, seakan seperti membagi langit dan laut rata dua.
Fadaelo berlayar lagi, lanjut ke pantai yang terkenal dengan julukan Pink Beach, karena pasir pantainya yang terdiri dari pecahan karang merah.
Ternyata pink beach, yang dalam bayangan kami bakal berwarna pink, tidak se-pink kenyataannya, hanya sebuah pantai kecil pendek yang dominan putih warnanya.
Tapi pink beach tetap menarik. pemandangan bawah lautnya juara. Fadaelo melempar Jangkar. Ketika yang lain asyik berenang permukaan di sekitar pantai, saya menunggu di atas kapal, duduk bersantai sambil makan pisang di anjungan depan.
Beberapa teman yang lain berloncatan terjun ke laut bergantian dari ujung depan kapal, dengan gaya beraneka ragam. Sungguh siang yang menyenangkan.
====
Hari masih panjang. Kapten memutar kemudi menjauh dari pink beach menuju destinasi selanjutnya.
Fada Elo mendekati bukit gugusan karang yang berada di ujung sebuah pulau. Orang lokal menyebut gugusan karang itu dengan sebutan Nisa Purung atau ”pulau yang terbakar.” sedang wisatawan manca menamakannya dengan istilah strawberry sundae. Dijuluki demikian mungkin karena warna gugusan karang yang merah seperti terbakar atau, untuk sebagian orang yang lain, seperti skup es krim strawberry yang dilapis variasi es krim kuning rasa kacang.
Nisa Purung bukanlah destinasi yang umum dikunjungi. Hanya beberapa pengunjung dengan minat khusus yang mau dan pernah ke sini. Bahkan Pak Mikael, pemandu kami yang asli orang lokal, pun mengaku baru pertama kali ini mengunjungi tempat ini.
Untuk menuju puncak Nisa Purung. kita harus menuju ke pulau dengan sekoci atau kapal kecil. Konon arus di sekitar pulau cukup deras sehingga sulit kapal besar bermanuver merapat ke pantai. Selanjutnya setelah menyisir pantai sebentar, kita lalu trekking ringan mendaki bukit ilalang yang lumayan curam dengan semak belukar dan ranting berduri di sekitaran, melintasi punggungan lalu sampailah ke puncak karang, karang besar berwarna merah dan kuning sepanjang mata memandang. Sungguh luar biasa.
Hari mulai gelap, dan senja mulai datang ketika kami meninggalkan Nisa Purung. Fada Elo melanjutkan perjalanan berlayar tenang menuju Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Pulau yang didiami oleh para Ora, sebutan orang-orang Manggarai bagi kadal purba bertubuh besar yang mendiami pulau ini.
Perjalanan hari ini menyenangkan, tak sabar rasanya menunggu esok hari, menunggu kejutan lain lagi yang diberikan oleh alam Manggarai Barat.
(bersambung)
















atre
December 5, 2011
ciamik benerrrrr foto-fotonya!
ipungmbuh
December 5, 2011
Aih, Terimakasih Tre *malu*
Evi
December 5, 2011
Narasinya bagus, foto-fotonya cantik..Perjalanan yang menakjubkan ini mas
(sambil geleng2 menatap fotonya )
ipungmbuh
December 5, 2011
Terimakasih Mba Evi.
Indonesianya yang menakjubkan, saya cuma bantu “capture” saja
Salam kenal.
Ely Meyer
December 5, 2011
WOW ….. foto fotonya cantik cantik …. jadi pengen langsung terjun berenang di laut biru
ipungmbuh
December 5, 2011
Terimakasih Mba. Indonesianya yang cantik..
harjo
December 5, 2011
Fotonya keren-keren, dari dulu sy sangat ingin ke Pulau Komodo, cuma masih nggak tahu caranya. Maksud cara termurah menuju ke sana.
ipungmbuh
December 5, 2011
Iya Pak Harjo, Kadang susah masuk di akal ketika biaya perjalanan ke beberapa bagian negara kita, jauh lebih mahal daripada abroad ke negara di belahan bumi lain.
Komodo cantik Pak, semoga bisa segera mengunjunginya
Aditya Permana
December 11, 2011
Kapan ya bisa kesini.. hmm…
pusing mikirinnya. hahaha..
ipungmbuh
December 11, 2011
“Banyak Jalan untuk ke Roma, Bang.”
dearbarbie23
January 4, 2012
great pics!
boleh tau brp budgetnya utk perjalanan ini? harus ber-10 ya?
ipungmbuh
January 20, 2012
Thanks. Waduh ini termasuk perjalanan saya yg ngga pakai budget, karena kebetulan ada yg nyeponsorin.
Tidak harus bersepuluh sih, tapi intinya lebih banyak orang, sharing menjadi lebih ringan.
anti
January 4, 2012
Cantik banget mas!
ipungmbuh
January 20, 2012
Terimakasih, Ti.
deewidyastuti
January 7, 2012
Fotonya kereeen! ceritanya bikin tambah pengen ke sana.Semoga.,,,
Thanks for sharing ya Mas Ipung
Yunaidi Joepoet
January 24, 2012
Jadi pengen nyebur lihat fotonya Mas. Flores nan menawan
diah
January 27, 2012
Baru bisa ngiler doang liat Mas Ipung dkk. jalan-jalan.
Great trip, juga fotonya keren-keren mas
*twothumbs