“Suka sama suka” di Laut Flores

Posted on December 1, 2011

17


Gb.1 Fada Elo.

Perjalanan selanjutnya adalah berlayar menggunakan kapal, mampir dari satu pulau ke pulau yang lain hingga tujuan akhir Pulau Rinca dan Pulau Komodo.

Dalam bayangan, kapal yang akan digunakan adalah kapal dengan mesin ber-pk kecil, mudah goyang disapu ombak, atau perahu nelayan yang ditutup terpal.

Salah besar, Sungguh salah besar! Kapal yang kami naiki kali ini ternyata sangat mewah (untuk ukuran pejalan amatiran yang belum pernah naik kapal besar kecuali kapal ferry)

Bayangkan sebuah kapal kayu besar tiga tingkat dengan panjang kurang lebih 25  meter.

Tingkat paling dasar adalah palka dengan enam kamar tidur berkasur kapuk yang masing-masing berpendingin ruangan!

Di atasnya terdapat ruang terbuka dengan meja dan kursi panjang lengkap dengan bantal,  berjejer di sisi kiri dan kanan. Karena letaknya yang strategis di tengah kapal, ruangan ini paling sering kami gunakan untuk berkumpul sekedar duduk-duduk mengobrol atau makan.

Serasa masih belum cukup terkejut, kami dibuat terharu dengan kulkas yang nyempil di pojokan yang penuh berisi minuman ringan, buah dan air dingin. (Cat : Baru kali ini kami jalan bisa minum air dingin tinggal tuang, tanpa perlu mencari warung)

Buritan belakang terdapat serambi yang dilengkapi empat kursi santai, televisi besar layar datar  dan perangkat audio komplit!

Selain itu kapal juga dilengkapi  dua kamar mandi dengan shower  air tawar.  Benar-benar  “Fasilitas Bintang tiga di atas kapal kayu ukuran dua puluh lima” ujar seorang kawan.

Kapal ini bernama ”Fadaelo”, yang dalam Bahasa Bugis artinya ”suka sama suka.” Kapten kapal, yang juga turunan Bugis, bernama Bang Fadli.  Kapten dibantu 2 (dua) ABK yang selain terampil mengurus kapal ternyata juga pandai memasak. Tampang para ABK bolehlah hitam legam dan sangar, tapi masakan yang mereka sajikan, kalau meniru istilah Pak Bondan, sungguh maknyuss.

Gb.2 Fada Elo terdiri dari tiga bagian utama. Palka bawah, geladak tengah dan anjungan atas.

Gb.3 Bersantai di buritan belakang.

Gb.4 Makan siang yang disiapkan oleh ABK.

Tujuan pelayaran yang pertama adalah Pulau Sabolon. Pulau kecil dengan pantai cantik dan bukit kecil.

Fada Elo tidak bisa merapat ke bibir pantai, sehingga kami harus ”berenang permukaan” (snorkling) menuju ke sana. Vegetasi bawah airnya sungguh sangat menawan hati, bagus dan alami. Koral terlihat rimbun, ikan-ikan kecil terlihat sehat dan lincah. Bahkan saya sempat bertemu dengan manta atau ikan pari berukuran sedang yang berenang di sekitar pulau.

Gb.5 Pulau Sabolon.

Gb.6 Foto bawah laut pulau di laut flores . (Foto (c) Lucia Nancy, 2011)

Gb.7 Nemo. (Foto (c) Lucia Nancy, 2011)

Gb.8 Koral dan habitat bawah laut yang masih terjaga. (Foto (c) Lucia Nancy, 2011)

Selanjutnya Pulau Seraya kecil. Pulau ini lebih besar dibandingkan Pulau Sebolon. Berbeda dengan Pulau Sebolon yang tidak berpenduduk, Seraya Kecil memiliki resort yang menyediakan pondokan-pondokan untuk menginap. Resort dijalankan oleh penduduk sekitar pulau.

Bila diperhatikan, bentang alam pulau-pulau di Laut Flores hampir identik, Pulau dengan kontur berbukit. Begitu juga Seraya Kecil, Bukitnya ditumbuhi rumput dan ilalang. Sementara yang lain asyik menyelam dan bermain di pantai, beberapa dari kami mendaki ke puncak bukit.

Pertama kali sampai di puncaknya, dalam pikiran saya langsung teringat dan terbayang pemandangan alam seperti di serial tv jaman dulu berjudul “Little House on the Prairie.” … indah betul!

Pemandangan cantik, dari atas bukit berumput dengan selang seling batu-batu besar dan pohon yang meranggas. Dari  situ kita bisa melihat teluk kecil Seraya, lautan dan pulau-pulau yang seperti terserak  dan cakrawala yang membentang di ujung mata memandang, seakan seperti membagi langit dan laut rata dua.

Gb.9 Teluk Seraya dilihat dari atas bukit.

Gb.10 Pemandangan lain dari atas bukit Pulau Seraya Kecil.

Gb.11 Ujung pulau Seraya Kecil.

Gb.12 Fada Elo dilihat dari atas bukit Pulau Seraya Kecil.

Fadaelo berlayar lagi, lanjut ke pantai yang terkenal dengan julukan Pink Beach, karena pasir pantainya yang terdiri dari pecahan karang merah.

Ternyata pink beach, yang dalam bayangan kami bakal berwarna pink, tidak se-pink kenyataannya, hanya sebuah pantai kecil pendek yang dominan putih warnanya.

Tapi pink beach tetap menarik. pemandangan bawah lautnya juara. Fadaelo melempar Jangkar. Ketika yang lain asyik berenang permukaan di sekitar pantai,  saya menunggu di atas kapal, duduk bersantai sambil makan pisang di anjungan depan.

Beberapa teman yang lain berloncatan terjun ke laut bergantian dari ujung depan kapal, dengan gaya beraneka ragam. Sungguh siang yang menyenangkan.

====

Hari masih panjang. Kapten memutar kemudi menjauh dari pink beach menuju destinasi selanjutnya.

Fada Elo mendekati bukit gugusan karang yang berada di ujung sebuah pulau. Orang lokal menyebut gugusan karang itu dengan sebutan Nisa Purung atau ”pulau yang terbakar.” sedang wisatawan manca menamakannya dengan istilah strawberry sundae. Dijuluki demikian mungkin karena warna gugusan karang yang merah seperti terbakar atau, untuk sebagian orang yang lain, seperti skup es krim strawberry yang dilapis variasi es krim kuning rasa kacang.

Nisa Purung bukanlah destinasi yang umum dikunjungi. Hanya beberapa pengunjung dengan minat khusus yang mau dan pernah ke sini. Bahkan Pak Mikael, pemandu kami yang asli orang lokal, pun mengaku baru pertama kali ini mengunjungi tempat ini.

Untuk menuju puncak Nisa Purung. kita harus menuju ke pulau dengan sekoci atau kapal kecil. Konon arus di sekitar pulau cukup deras sehingga sulit kapal besar bermanuver merapat ke pantai. Selanjutnya setelah menyisir pantai sebentar, kita lalu trekking ringan mendaki bukit ilalang yang lumayan curam dengan semak belukar dan ranting berduri di sekitaran, melintasi punggungan lalu sampailah ke puncak karang, karang besar berwarna merah dan kuning sepanjang mata memandang. Sungguh luar biasa.

Gb.13 Nisa Purung atau Strawberry Sundae.

Gb.14 Gugus karang besar yang berwarna merah dengan diselingi sedimen berwarna kuning.

Gb.15 Warna merah Nisa Purung, kontras dengan warna laut dan atol dangkal di sekitar pulau.

Hari mulai gelap, dan senja mulai datang ketika kami meninggalkan Nisa Purung. Fada Elo melanjutkan perjalanan berlayar tenang menuju Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Pulau yang didiami oleh para Ora, sebutan orang-orang Manggarai bagi kadal purba bertubuh besar yang mendiami pulau ini.

Perjalanan hari ini menyenangkan, tak sabar rasanya menunggu esok hari, menunggu kejutan lain lagi yang diberikan oleh alam Manggarai Barat.

Gb.16 Fada Elo melempar jangkar.

(bersambung)

Posted in: Backpacking, Foto