Caci, Tarian Lelaki Manggarai


(Video by: (c) Giri Prasetyo, 2011)

Sore itu gerimis turun ketika Bapak tetua adat Kampung Melo menyambut kami di ujung jalan desa. Sekelompok pria berkumpul di halaman menggunakan pakaian adat. Wanita-wanitanya menabuh alat musik pukul tradisional menghadirkan suasana magis terasa ketika bunyi-bunyiannya yang ritmis bercampur dengan nyanyian adat.

Kami masuk ke sebuah rumah panggung, bersebelahan dengan sepetak halaman kecil  dan bukit yang dari situ pandangan kita bisa melihat bebas pemandangan indah dataran rendah di sekeliling.

Kampung Melo terletak di Desa Liang Ndara, Kecamatan Sanonggoang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Dekat dengan jalan utama Trans Flores, Kampung cantik ini bisa mudah kita datangi menggunakan kendaraan umum atau kendaraan pribadi.

Penduduknya baik, mungkin memang tipikal khas orang Flores ramah, ceria dan bersemangat. Dengan senyum tulus mereka menyambut kami, beberapa anak muda yang belum mereka kenal sebelumnya.

Dibimbing Pak Mikael, yang orang Flores asli, kami kemudian diajak mengikuti upacara adat. Duduk lesehan dalam rumah panggung, berjejer berhadapan dengan pemuka-pemuka adat Kampung Melo.  Secangkir tuak raja, sejumput kapur dan pinang disajikan kepada kami sebagai bentuk penghormatan. Tetua adat juga mendoakan dan memberikan kata-kata ucapan dalam bahasa adat, tanda menerima kami sebagai tamunya. Bagi masyarakat Manggarai Barat, wajib hukumnya menyambut tamu dengan baik. Konon, bila sampai ada tamu yang tidak disambut dengan baik berarti mereka telah gagal menjaga adat Manggarai Barat.

Hujan tiba-tiba bertambah deras setelah upacara adat selesai, ketika kami kemudian ke halaman untuk menyaksikan Tari Caci yang dibawakan Penduduk Kampung Melo. Sempat kami meminta untuk tarian dibatalkan saja, tapi mereka tidak berkeberatan untuk melanjutkannya.

Salah seorang kawan kami diminta untuk membuka tarian caci dengan adu satu lawan satu melawan penari yang sudah bersiap. Dengan sekuat tenaga, sebagai bentuk penghargaan atas kekuatan lawan, teman kami meloncat, memecut dengan Mbete, Larik atau pecut yang ujungnya terbuat dari kulit kerbau yang telah dikeringkan. “CTAR…!” Ujung pecut mengenai badan lawan namun lawan justru tersenyum dan kemudian mengajak kawan kami bersalaman, tidak ada dendam. Tari caci dimulai, dibawah guyuran hujan yang semakin deras.

Menurut adat, caci hanya boleh dipentaskan oleh para lelaki. Secara filosofis caci menggambarkan pertandingan satu lawan satu  sebagai pembuktian kekuatan di antara mereka.

Meskipun terlihat sangat maskulin dan keras tapi caci menjunjung nilai-nilai sportivitas. Penari hanya boleh bertanding satu lawan satu, menggunakan senjata dan perisai yang sama dan tidak boleh ada dendam setelah pertandingan.

Dengan Pangga (asesoris penutup kepala berbentuk tanduk yang dibuat dari kulit kerbau dibungkus kain warna-warni) dan celana berbalut kain songket Manggarai yang basah oleh air hujan, para penari mengawali pertandingan dengan meneriakkan pantun penyemangat yang mengintimidasi lawan. Lawan pun membalas dengan teriakan yang sama, tidak mau kalah.

Bunyi Giring-giring,  asesoris yang digantung di belakang pinggang para lakon, berbunyi seperti lonceng, berdenting mengikuti gerakan sang penari. Mbete saling kibas memecut udara dan genangan air, menyambar ke tubuh dan Giling (tameng) lawan saling bergantian.  Dengan lincah mereka saling bergantian memecut dan menangkis, sampai menimbulkan suara keras menyaingi suara hujan yang menderas.  Tarian selesai setelah ada salah satu yang memenangkan pertandingan.

Setelah Tari Caci oleh para pria selesai kemudian dilanjutkan dengan tari tuktuk alu yang dibawakan para wanita. Menggunakan kain selendang, mereka mengajak kami ikut menari di bawah guyuran hujan.

Kami menari, tertawa-tawa, berbasah-basahan di bawah hujan yang sama. Tiada lagi sekat antara kami, sekelompok anak muda pendatang, dengan penduduk kampung Melo.

Kata Bapak tetua adat, mereka senang dengan kami yang tidak canggung menari bersama meskipun hujan turun dengan deras. “Ini baru pertama kalinya terjadi, menari di bawah guyuran hujan bersama tamu yang datang.” Katanya, dan kami sungguh merasa terhormat mendengarnya.

Hari menjelang petang, seiring hujan yang mulai mereda kami pun berpeluk berpamitan dengan penduduk Kampung Melo. Diiringi lambaian tangan penduduk, kami-pun meninggalkan Kampung Melo, Berbekal kenangan unik yang mungkin tidak akan terulang lagi.

Gb.1 Ksatria Caci

Gb.2 Sukmadede, teman kami, diberi kehormatan bertarung melawan lelaki Manggarai, mengawali tarian

Gb.3 Menangkis…

Gb.4 dan memukul

Gb.5 Penari Tuk Tuk Alu

Gb.6 Menari bersama…

Gb.7 dengan gembira

Gb. 8 Menari di bawah air hujan (Foto (c) Gilang Tamma, 2011)

Gb.9 Bersama-sama

About these ads

12 thoughts on “Caci, Tarian Lelaki Manggarai

  1. abangpay says:

    bah! seru nih keknya kalo kita travelling bareng, pung! :)

  2. atre says:

    Ini semacam seru banget ceritanya, Mas Ipung.
    Foto-fotonya juga bagus banget.
    Nice report! :)

  3. Dhany says:

    kuwe gear di udan udanan ya gan, kereeennnn om, foto sing udan, dadi pengen landscapepan kiyeh, jan kodean makin akeh

  4. Jadi pengen kesana melihat tariannya Mas.
    Foto-fotonya ciamiiik ! :)
    salam

  5. […] Caci, Tarian Lelaki Manggarai […]

  6. Foto terakhir emang asik ya, Mas … Apalagi ngeliatin eksperisnya Uci yg girang :P

  7. erick says:

    terima kasih sudah berkunjung ke manggarai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 47 other followers

%d bloggers like this: