“Selamat datang di Labuan Bajo”, kata Pak Mikael Nongko, tour guide yang menyambut ramah ketika kami keluar dari pesawat ATR 72 berbaling-baling ganda yang baru saja mendarat setelah terbang dari Denpasar.
Saya banyak mendengar tentang keindahan lansekap pemandangan kota-kota di Indonesia bagian timur, namun melihat infrastruktur bandara yang “minimalis” dan keadaan alam sekelilingnya yang kering, saya merasa under estimate terhadap kota yang akan saya kunjungi ini.
Kurang lebih lima belas menit perjalanan dari bandara, melewati jalanan beraspal diantara bukit-bukit dengan rumput meranggas, sampailah di ujung tikungan yang menghadirkan pemandangan kota kecil di tepi laut, cantik!
Ekspektasi saya sebelumnya ternyata salah, Labuan Bajo sungguh sangat menawan. Kota pelabuhan di ujung barat Pulau Flores ini memiliki bentang alam yang sangat indah.
Berada di bukit tepi pantai yang menghadap teluk yang tenang, berjejer rumah dan penginapan yang bertumpuk. Tiap bangunan rasa-rasanya memiliki balkon yang dari situ dapat melihat cakrawala terbentang di kejauhan dengan pulau-pulau yang terserak diantara dermaga yang penuh dengan kapal niaga dan pesiar. Untuk saya yang orang Indonesia, Labuan Bajo seperti gabungan keindahan Kota Positano Salerno Italia dan Bergen Norwegia.
Penduduk Labuan Bajo terdiri dari orang asli Flores yang hidup rukun dengan pendatang yang antara lain berasal dari Bugis, Jawa, Madura dan Padang. Pelancong asing yang banyak terlihat hilir mudik pun diterima dengan ramah disini.
Mulai hari kedatangan hingga beberapa hari kedepan, rasa-rasanya bakal menyenangkan. Membayangkan sarapan dengan pemandangan pelabuhan yang tenang, me-nyruput kopi Flores panas-panas dengan rasa kopinya yang khas di sore hari sambil menikmati matahari terbenam di ujung cakrawala, memandang lautan lepas saujana mata memandang, itu semua ada dalam bayangan saya yang akan saya nikmati pelan-pelan di kota kecil ini.
Dari kota ini, bersama sepuluh orang kawan, perjalanan dimulai. Berbaur dengan masyarakat beserta adat budayanya, berlayar mengarungi lautan biru dengan pantai pasir putihnya, menyaksikan keanekaragaman flora dan fauna khas serta menyicipi makanan dan minuman lokal tempatan.
Dan dari kota ini perjalanan pun kami mulai.






Giri Prasetyo
November 28, 2011
kepingin mbalik maning ya….
ipungmbuh
November 29, 2011
Ha… Mesti #kode iki.. *ngikik*
deewidyastuti
January 7, 2012
one of my dreamsDestination…