Ini adalah tentang cerita yang tersisa dari libur lebaran kemarin di kampung nenek. Rumah nenek terletak di kecamatan Sidareja, pojokan Kabupaten Cilacap bagian barat.
Sidareja, kecamatan kecil dengan kemewahan empat lapis di bawah kemilaunya Jakarta, selalu berdebu setiap siang. Walaupun dengan jalan aspal yang banyak berlubang, jalanan yang selalu ramai pengendara sepeda motor yang (mungkin) hanya bisa dikalahkan oleh jalanan di Vietnam, Sidareja tetap merupakan ‘kampung’ yang dirindukan oleh kami.
Empat tahun sudah kami tidak berlebaran di Sidareja, hal itu karena empat tahun belakangan nenek (kakek sudah meninggal) tinggal berpindah-pindah dari rumah Bulik di Pondok Gede dan Paklik di Purwokerto. Tahun ini, nenek sudah cukup sehat untuk bisa kembali ke Sidareja, sehingga kami bisa berlebaran di kampung nenek kembali.
Pada suatu pagi, bersama adik, sepupu dan paman, kami berjalan-jalan, dan ini adalah beberapa cerita dari gambar-gambar yang sempat terkumpul di “halaman belakang rumah nenek” yang sempat dilewati.
Kampung nenek masih banyak sawah, masih sering bertemu kabut di setiap paginya.
Empat tiang bambu yang ujungnya di pasang kain berwarna cerah, ini merupakan zona pendaratan. Burung merpati dilepas dari pinggir desa yang bisa berjarak cukup jauh dari zona ini. Burung siapa yang terlebih dahulu mendarat melewati empat tiang ini, dia juaranya.
Orang di kampung nenek terlalu bingung dengan konsep KPR, prinsip mereka sederhana ‘rejeki tidak kemana.’ Jadi kalau rejekinya sekarang baru batu bata dan genteng, ya mari berdoa siapa tahu sebentar lagi panen cukup berhasil sehingga bisa membeli pasir dan semen.
Dan si Upik pada akhirnya bisa dapat kamarnya sendiri selepas musim panen nanti.
Sidareja terletak di Cilacap bagian barat, berbatasan dekat dengan Jawa Barat. Entah kenapa rasa sebal akan viking begitupun the Jak juga kental di sini.
Jangan bilang tidak ada klub sepak bola di sini, sebut dengan lantang PSCS (Cilacap Selatan) dan kami teriakkan dengan kebanggaan yel-yel Si ‘Laskar Nusakambangan.’
Orang kota senang berpikir rumit-rumit. Kalau ada solusi yang simpel dan mudah yang cukup membuat maling berpikir seribu kali sebelum menyatroni rumah dan harta benda yang ada di dalamnya, buat apa dipersulit.
Maka, kami pasang pecahan gelas sebagai sistem alarm, murah dan cukup efektif (kami rasa).
Online marketing, pemasaran lewat jejaring sosial terlalu rumit buat kami. Getok tular dari mulut ke mulut itu efektif. Bukankah kekerabatan dan hubungan disini begitu kental. Salah sedikit tak mengapa yang penting pegal-pegal teratasi.
Lebaran adalah waktunya membeli mainan untuk anak ini. Tidak setiap saat dia bisa memiliki mainan yang dia inginkan. Begitu ibunya mengijinkan dia membeli balon yang bisa terbang ini.. Siapa yang bisa menyangsikan kebahagiaan yang ada di wajahnya.
Awas meledak ya nak.
Nenek ini bercerita tentang anaknya yang tiga kali lebaran tidak pulang-pulang. Bukan sedang menirukan sebuah lagu melayu dia bercerita, tapi memang kenyataannya seperti itu.
Tapi bagi orang Jawa, “kami tidak pernah mengenal derita, semua selalu ada ‘untung’-nya”
“Masih untung anak saya tetep ngirim” katanya bahagia.
Jalan hingga sudah hampir siang, tak terasa sudah sampai batas kecamatan
Dahulu kata jaman belanda, kerja rodi ditetapkan kepada pemuda-pemuda di desa, membangun jalan kereta dengan kayu dan besi di sepanjang selatan pulau jawa, pun yang melewati kampung ini.
Tapi siapa berani bertaruh, kayu ini bakal lebih cepat merapuh di banding cetakan semen buatan perusahaan negara yang baru ditaruh.
Istirahat sebentar, Rumah nenek tinggal sudah di depan, lalu kita pulang dan sarapan.
Mumpung langit masih biru, yang jarang -jarang bisa ditemui di kota yang langitnya lebih sering kelabu.
Memanjat tanda sinyal bagi masinis kereta, melihat apakah rangkaian ular besi sudah datang dari timur.
Banyak sudah yang dilihat dan ditemui dari ‘halaman belakang rumah nenek.’ Semoga empati dan rasa peka dan rasa syukur semakin tebal.
Sekarang saatnya kita pulang. Tempe mendoan, sambal dan sayur asam menunggu di dapur.














bangsari
September 28, 2010
ngetan sithik tekan nggonku pung…
ipungmbuh
September 28, 2010
La Sampeyan Sidarejane ngendi kang ipul. Adus banyu anget neng Cipari mayuh.
Dewi Setiawati
September 30, 2010
lha mirip2 dg rencanaku buat edisi ketiga cerita mudik ttg desa aseliku berasal, yg udah 10 thn ini ndak lagi kukunjungi krn alasan klasik udah gak ada lagi “simbah” hik hik
)
tapi kenangan akan desa Tanjungrejo Jekulo Kudus bener2 tak terlupakan, sayang gak bisa kupotret krn aku mudik kmrn gak kesitu
inspiring story Pung…
ipungmbuh
September 30, 2010
Thx Mba Dewi. Walau Nda ada Si Mbah, tetep sedulur sama tanga-tanggane