Sawarna; Pesona Tersembunyi Tanjung Layar, Karang Taraje, Pantai Sepang dan Palistir (I)


Gb. Senja Pantai Sawarna, Banten, Indonesia

Januari 2010

Foto terkait perjalanan ini dapat di lihat pada posting sebelah

Kabupaten Lebak, dengan Rangkasbitung sebagai ibukotanya secara geografis terletak berbatasan dengan Kabupaten Pandeglang, Sukabumi dan Tangerang.

Di Kabupaten Lebak inilah, tepatnya di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, terdapat obyek wisata yang dikenal dengan nama Pantai Sawarna.

Sawarna adalah sebuah desa pesisir yang memiliki berbagai macam objek wisata menarik. Belum banyak orang yang mengetahui mengenai objek wisata ini. Minimal bila dilihat dari belum adanya referensi mengenai Sawarna di dalam buku Lonely Planet (LP) Indonesia edisi 2009 yang biasanya menjadi acuan wisatawan akan tempat tujuan wisata tertentu.

Menjelang akhir tahun 2009 saya dan dan 3 (tiga) orang rekan (Harry Kawanda, Happy Kurniawan dan Endro Catur) merencanakan untuk menjalankan trip ke Sawarna ini. Estimasi waktu yang kami rencanakan adalah selama 5 (lima) hari 4 (empat) malam.

Budget dan Jenis Perjalanan

Berjenis road trip dengan grade moderate-extreme ekonomis, kami rencanakan menggunakan budget kurang dari 300k-Rp/orang dikarenakan beberapa biaya dapat ditekan dengan cara: transportasi memakai mobil pribadi, akomodasi dengan membawa perbekalan sendiri dan membawa tenda sendiri.

PIC

Disana kami dijamu oleh Kang Opip (081906358930), warga lokal Dusun Gempol yang tempat tinggalnya kami pakai menginap beberapa hari.

Walaupun rumah Kang Opip jauh dari perkampungan wisata Sawarna/Tanjung Layar namun hal itu justru menjadi berkah tersendiri bagi kami, rumah Kang Opip ternyata malah dekat dengan objek wisata lain (“Laguna Pari”, “Karang Taraje” dan “Palistir”) yang jauh lebih menarik.

Transportasi.

Kami berangkat dari Jakarta pada tanggal 30 Desember 2009. Untuk trip kali ini kami menggunakan kendaraan sendiri (bukan transportasi umum) dengan “rute Serang” ( Jakarta – Pandeglang – Rangkasbitung – Saketi – Malimping – Bayah – Sawarna).

Selain rute Serang, Sawarna sebenarnya dapat ditempuh melalui “jalur Sukabumi,” namun dengan pertimbangan menghindari macet, menjelang tahun baru, di tol Jagorawi maka kami memilih mengambil jalur Serang yang relatif lebih sepi.

Jalur Serang kami tempuh selama 8 (delapan) jam. Kondisi jalan yang kami lalui relatif baik, kecuali jalur antara Saketi s/d Malimping yang rusak parah karena sering dilalui truk bermuatan kelapa sawit. Meskipun demikian Livina yang kami kendarai relatif bisa mengatasinya.

Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah gerbang wisata Sawarna yang kurang begitu terlihat (terutama bila malam). Sebaiknya bila telah masuk Kecamatan Bayah hendaknya menayakan letak gerbang tersebut ke masyarakat sekitar.

Setelah memasuki gerbang tersebut kita memasuki jalan aspal di antara hutan. Walaupun gelap jika malam, namun menurut penduduk sekitar jalur tersebut relatif aman.

Di antara gerbang Sawarna hingga objek wisata juga terdapat beberapa tanjakan dan turunan yang curam, namun dengan adanya rambu peringatan yang telah terpasang membuat jalan tersebut menjadi cukup mudah untuk dilewati.

Objek wisata Sawarna ditandai dengan sebuah lokasi yang ramai karena banyaknya warung dan pangkalan ojek, yang berseberangan dengan jembatan gantung kecil yang oleh penduduk situ dinamakan “jembatan kalpanax.” Untuk selanjutnya mobil dapat diparkir di sekitar jembatan tersebut (5k-Rp)

perjalanan selanjutnya diteruskan dengan berjalan kaki menyeberangi jembatan gantung hingga pantai Sawarna. Diantara jembatan hingga pantai kita melewati kampung penduduk yang rumah-rumahnya dapat dipergunakan sebagai homestay dengan tarif rata=rata 75k-Rp/orang/malam. Kami tidak mampir di rumah penduduk tersebut, karena kami berniat untuk membuka tenda di pantai.

Dalam catatan kami, perjalanan dari Jakarta hingga Sawarna kami tempuh selama 7 (tujuh) jam 45 menit, berangkat pukul 16.00 WIB dari Jakarta dan sampai di pantai Sawarna pukul 23.45 WIB, 15 (lima belas) menit sebelum tahun baru 2010.

Objek Wisata

Pantai Sawarna

sebagaimana diceritakan sebelumnya, Pantai Sawarna sebagai objek wisata andalan berjarak ± 1 (satu) kilometer dari jembatan gantung. Menuju pantai ini hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau menggunakan motor. Hal ini dikarenakan ukuran jembatan gantung yang kecil dan hanya memiliki lebar 1 (satu) meter. Pantai Sawarna adalah pantai pasir putih sebagaimana tipikal pantai-pantai di Jawa pada umumnya.

Tanjung Layar

Tanjung layar dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 10 (sepuluh) menit dari Pantai Sawarna. Tanjung Layar adalah pantai yang di bentengi oleh dua karang besar (kurang lebih setinggi 5 (lima) meter) berbentuk seperti layar dengan barisan karang yang memanjang di depan pantai. Dikarenakan dibentengi oleh barisan karang, Tanjung Layar menjadi semacam laguna yang tenang tanpa gelombang, sehingga menjadi spot favorit untuk berenang dan berendam oleh para wisatawan.

Karena letaknya yang tepat di sebelah barat, Tanjung Layar menjadi tempat yang ideal pula untuk melihat matahari terbenam dengan latar belakang siluet dua karang besar tersebut.

Laguna Pari

Setelah puas di pantai Sawarna dan Tanjung Layar kami mengemasi kembali tenda dan segala peralatan untuk dimasukkan ke dalam mobil yang diparkir di dekat jembatan gantung. Tujuan selanjutnya adalah Dusun Gempol, kurang lebih 1 (satu) kilometer dari jembatan gantung, dan memarkir mobil di sana, guna selanjutnya menuju ke Laguna Pari.

Untuk mengejar matahari terbit, kami merencanakan pergi ke Laguna Pari pada malam hari (Pukul 20.00 WIB). Jarak antara Dusun Gempol hingga Laguna Pari dapat ditempuh selama 45 (empat puluh lima) menit perjalanan dengan melewati bukit yang trek-nya lumayan licin, apalagi semalam sebelumnya trek tersebut basah sehabis diguyur hujan.

Laguna Pari adalah pantai yang tersembunyi, tempat nelayan Sawarna (Dusun Gempol) biasanya melabuhkan perahu. Di sekitar pantai banyak terdapat gubuk-gubuk nelayan yang dapat kita gunakan sebagai tempat berteduh.

Sesampainya Di Laguna Pari kami menggunakan salah satu gubuk nelayan tersebut untuk bersitirahat sambil menunggu terbitnya matahari pagi. Berkebalikan dengan Tanjung Layar, Laguna Pari berada di sisi timur sehingga ideal untuk melihat matahari terbit.

Karang Taraje

Jackpot!

Bagi kami justru karang Taraje inilah objek paling oke selama kami berkunjung ke Sawarna. Karang Taraje sebenarnya adalah pantai karang dengan bentangan karang yang besar dan luas di sepanjang pantai Laguna Pari hingga Pantai Sepang/Cikoromong,

The Beach is full of rock like ladder” begitu komentar teman saya ketika melihatnya. Dinamakan Karang Taraje karena pada suatu titik kami harus menaiki sebuah Taraje (tangga – bahasa Sunda; red) yang terbuat dari kayu untuk bisa menaiki karang dan melanjutkan menyusuri pantai menuju ke Palistir. Selain itu hamparan karang yang menyerupai trap atau undak-undakan juga menjadi alasan kenapa kemudian dinamakan Karang Taraje.

Di beberapa spot, trek yang dilalui mengharuskan untuk melewati lapisan karang dimana sebelah kiri terdapat tebing karang yang tinggi dan di sebelah kanan terdapat lautan lepas dengan ombak besar yang menghantam pinggiran karang. Namun dikarenakan jarak antara tebing dan laut yang cukup lebar sehingga jalur di karang Taraje ini aman untuk dapat dilalui.

Di Karang Taraje ini dapat pula kita temui beberapa cekungan karang yang membentuk kolam di antara sela-sela karang. Cekungan/kolam tersebut berisi air dan ikan, Tidak heran banyak penduduk lokal yang senang menjadikan Karang Taraje sebagai tujuan untuk memancing.

Pantai Sepang/Cikoromong

Setelah melewati Karang Taraje selanjutnya adalah Pantai Sepang/ Cikoromong. Pantai Sepang/Cikoromong ini memiliki keindahan pada pasir putihnya yang masih bersih dan pantainya yang sangat lebar (± 7 (tujuh) meter dari tepi darat). Kelebihan lainnya dari Pantai Sepang/Cikoromong ini adalah ombak nya yang besardan bergulung, yang pasti sangat ideal untuk digunakan berselancar (surfing).

Palistir

Setelah Pantai Sepang/Cikoromong terlewati, selanjutnya adalah Palistir. Palistir adalah tebing karang di sisi pantai yang memiliki teras karang yang lebar seperti panggung dalam sebuah hall yang luas.

Panggung karang itu berundak-undak dengan air yang gemericik mengalir diatasnya. Air yang mengalir tersebut ternyata berasal dari sisa-sisa air yang terbawa ombak tinggi, yang menghantam pinggiran teras karang Palistir dan menyusup melalui sela-sela karang.

Tips

  • Di Pantai Sawarna tidak ada toilet dan sumber air bersih. MCK dapat dilakukan dengan berjalan menuju kampung terdekat ±600 (enam ratus) meter dari pantai. Jadi apabila anda berniat untuk camping di pantai, hendaknya siapkan air dan berbekalan yang cukup.
  • Home stay di kampung dekat pantai Sawarna bertarif 75k-Rp/orang/hari.
  • Di pantai Sawarna terdapat saung yang dapat digunakan untuk berteduh. Walaupun tidak layak dan sudah rusak namun saung tersebut dapat digunakan untuk membuka tenda di bawah atapnya.
  • Walaupun kewaspadaan dan kehati-hatian mutlak diperlukan, namun kondisi pantai dan desa Sawarna cukup aman. Kami sempat meninggalkan tenda di pantai, berisi barang-barang, selama beberapa saat ketika kami menuju Tanjung Layar.
  • Apabila hendak menuju Laguna Pari, Karang Taraje, Pantai Sepang/Cikoromong dan Palistir, disarankan untuk memarkir kendaraan atau menginap di Dusun Gempol. Bisa menghubungi Kang Opip (081906358930) yang rumahnya dapat kita gunakan sebagai homestay untuk menginap.(seikhlasnya; 200k-Rp/rumah/hari)
  • Untuk menuju Laguna Pari, Karang Taraje, Pantai Sepang/Cikoromong dan Palistir sebaiknya menggunakan guide warga Dusun Gempol (seikhlasnya; 50k-Rp/guide)
  • Di Laguna Pari tidak terdapat warung, sehingga harus membawa perbekalan dan peralatan yang cukup untuk meneruskan berjalan hingga ke Palistir.
  • Jarak antara Laguna Pari hingga Palistir memakan waktu sekitar 5 jam (pulang pergi). Sebaiknya berangkat dari Laguna Pari sebelum pukul 09.00 WIB agar dapat kembali ke Laguna Pari tidak terlalu sore (kecuali memang berniat untuk menginap/camping selama perjalanan antara Laguna Pari-Palistir).
  • Bawa perbekalan (khususnya Air) yang cukup selama perjalanan antara Laguna Pari-Palistir dikarenakan tidak ada warung dan rumah penduduk yang di sepanjang jalur tersebut.

NB: Mohon koreksi dan pertanyaan apabila dirasa masih terdapat informasi yang salah, menyesatkan atau kurang jelas. Terimakasih.

Tagged , , , , ,

41 thoughts on “Sawarna; Pesona Tersembunyi Tanjung Layar, Karang Taraje, Pantai Sepang dan Palistir (I)

  1. bangsari says:

    potone kurang akeh kang….

  2. nothing says:

    foto gadis gadisnya mana??

  3. Mawar says:

    1/ Homestay d Sawrna kyny bs jg diitung per kepala. Kl ga slh, tarifnya IDR 75,000/ org. CMIIW.

    2/ Lagun Pari – WARNING!! Nyamuknya liar, ganas, buas dan membahana!! Pastikan membawa obat anti nyamuk!!

    3/ Perjalanan Lagun Pari – Palistir bisa ditempuh dlm waktu kurang dari 5 jam, dgn catatan, ga pake foto2, istirohat, leyeh2, dan mengagumi keindahan alam. Tapi rasanya sayang kl tidak menikmati pemandangan yg disuguhkan oleh alam sepanjang perjalanan tsb.

    4/ Pantai Sep*ng??!? Wkwkwkwkw…

    5/ Dusun Gempol??!? Jd inget bonggol!! Wkakwkkwkwkwww…

    6/ Last but not least: Please be more concern abt yr waste! Sampah2nya, walaupun mgkn ga bs dbawa pulang, tp plg ga dikumpulin dlm satu kantong dan dibuang pada tempatnya!

    Guess dats all? Kl ada yg salah, mohon dikoreksi jg. Kl ada yg kurang (lagi) mohon ditambahkan.

    Nice writing yet informative, Pung! ;)

  4. ini.aku.diah says:

    hwaaaa, mas ipung ke bayah mbok mampir tempatku… jadi daku bisa ikutan :)
    fyi, diah kan kantornya di Labuan, coba mampir… yah bangsa cumi bakar, otak2 n kopi aja sii sangguuuup, hehe..
    jadi pengin ke sawarna, highly recomended kan mas? setahun di Banten paling jauh baru nyampe Tanjung Lesung. mudah-mudahan bisa segera menjajal selatan banten.. thx for share ya mas!

    • ipungmbuh says:

      Ini Diah “Sabai”?
      wahh, kalau tahu pasti mampir ya.
      Berkantor dimana dan Labuan sebelah mana?
      Sawarna highly recomended, pasti ada saatnya yg ke dua kali :D

  5. ini.aku.diah says:

    yups yg alumni Sabai :)
    diah krja di pegadaian cbg Labuan, cbg paling jauh tuh sekanwil jakarta, sdm nya tau aja nempatin diah yg suka menyepi :p
    sip2, Banten msh luas, kesempatan jg ada, mdh2n sempet liat bbrp tmpt lain d banten sblm pnempatan brkutnya ^^

  6. jakongsu says:

    Saya pernah melintas dari Malingping melalui Bayah, tembus ke Pelabuhan Ratu. Pemandangan di sekitar Bayah memang luar biasa indah dengan pantai dan deburan ombak pantai selatan. Saya pernah lihat setelah dari Bayah menuju Pelabuhan Ratu di jalan yang berliku-liku ada tertulis, kalau nggak salah koservasi pariwisata. Itu sekarang nasibnya gimana ya. Perjalanan menuju Bayah melalui Malingping rasanya jauh sekali, karena memutar. Apakah ada jalan potong kompas dari Bogor melalui taman nasional Halimun langsung menuju Bayah, atau Sawarna. Kalau di peta terlihat ada jalan-jalan kecil sih.

    • ipungmbuh says:

      Jalur normal memang dari Bogor dan sekitarnya, hanya saja karena kita naik mobil, kita lebih milih memutar lewat malimping yang relatif tidak macet.

  7. wirawan says:

    Jadi kepengen liat Sawarna neh….untuk penginapan apa perlu di booking dulu pak.?

  8. riza says:

    nice!!!…dah beberapa kali ke sawarna, tapi baru denger karang taraje, pantai sepang, palistir! :(

    someday kesana ahhh

    cheers,
    thanks for the info!

  9. djoexay tea says:

    dari gempol ada jembatan menuju xe leles nah ntu tmpt rumah nenex w, mau xe t, layar jga bisa pling 10 mnit

  10. ipungmbuh says:

    Kapan-kapan, kita samperin nenek anda ;)

  11. anantha says:

    aduhhh… karang taraje itu mah biasa tempat saya main,,
    kang ipung ga main ke pulo manuk, sebelum sawarna klau dari karang taraje… kpn main kesini lgiii???

  12. [...] Sawarna; Pesona Tersembunyi Tanjung Layar, Karang Taraje, Pantai Sepang dan Palistir (I) January 2010 20 comments and 1 Like on WordPress.com, 4 [...]

  13. harun says:

    kang itu nomer hp warga lokal nya msih aktif???
    bles lwat email aja kang…mkasih

    sicounk@hotmail.com

  14. Notes From The Toilet Paper says:

    wahh..tips & infonya boleh nih kang…bermanfaat banget…Buat referensi bikin itenerary.. :)

    • ipungmbuh says:

      Monggo, senang bisa berbagi, mas.

      • Adhitya Pratama says:

        Kang Opip itu masih bisa dihubungin gak ya? Trus seberapa jauh kang dari Desa wisata sawarna rumahnya?

      • ipungmbuh says:

        Belum pernah saya hubungi lagi beliaunya, tapi coba saja. Rumahnya ngga begitu jauh dari desa wisata kok. Keuntungan tinggal di sana yaitu letaknya yg di tengah-tengah antara desa wisata/pantai Sawarna dan Laguna Pari/Karang Taraje. Selamat berlibur :D

  15. Adhitya Pratama says:

    owh gitu..seru tuh berarti, klo spot buat ngecamp yg asik dimana? tau gak kang?

    • ipungmbuh says:

      Untuk nge-camp coba di pantai palistir. Sebelumnya pastikan dulu untuk membawa perbekalan yang mencukupi selepas dari rumah kang opip ya. Karena air dan bahan makanan sulit untuk ditemui di sekitaran pantai yang masih lumayan perawan itu.

  16. mariana says:

    mas maaf numpang tanya.itu d antara swarna,karang taraje,laguna pari dll.yg paling bagus yg mana ya?ad cp yg bsa d hub dsana gak?sbgai pemandu jalan bwt dsana.karna sya bner buta daerah sana.thx.mohon infonya ya bsa kirim ke email sya

  17. lulu says:

    makasih banget ya buat informasinya. itu nomer kang opip udah saya coba telfon tapi kok nggak bisa ya? salah mungkin? atau ada nomer kak opip yg lain?
    sangat diharapkan untuk balasannya. :)

    • ipungmbuh says:

      Waduh maaf kalau saya sudah tidak update lagi mengenai HP Kang Opip, tapi bisa coba menghubungi Losmen Chlara dengan CP: Bapak Endan Hudri dan ibu Nenda 087772095744 dan 085920117270. Semoga informasi ini bisa membantu. Selamat liburan :)

  18. imamtho says:

    wah 5 hari 4 malam, explore Sawarna dan sekitarnya seru juga ya…

  19. andi cahyono says:

    saya terakhir ketempat tadi…….30 tahun yg lalu, semasa masih kuliah.. masih jalan2 setapak dan batu…… rute dari pelabuhan ratu—–sampai labuhan carita.. kalau dulu jalan tampa berhenti 24 jam lebih……

  20. Yusmaniar Jambak says:

    kira – kira untuk wanita aman g mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 47 other followers

%d bloggers like this: