Sepak bola, PSSI, Irasionalitas dan Lelaki
Terdapat paradoks yang mungkin agak aneh ketika menghubungkan tiga kata diatas, kenapa saya sebut sebagai sebuah paradoks? Kaitannya adalah sebagai berikut :
Ada hipotesis yang mengatakan bahwa secara psikologis proses alur berpikir dan mengambil keputusan antara lelaki dan perempuan adalah berbeda. Lelaki lebih mengedepankan rasionalitas dalam mengambil keputusannya, dan wanita dengan arifnya menggunakan emosi sebagai filter pertama yang ia pasang dalam menentukan analisisnya. Hipotesis tersebut tidak sepenuhnya benar dan juga tidak sepenuhnya salah.
Entah dengan wanita namun bagi kaum pria ada beberapa hal di dunia ini yang bisa menyebabkan rasionalitas mereka menjadi lenyap tak berjejak, hilang secara misterius, dan menguap tak berbekas dalam otak mereka. Satu dari beberapa hal itu [yang disepakati oleh lebih dari separuh penduduk dunia berjenis kelamin laki-laki] adalah BOLA, lebih tepatnya SEPAK BOLA, FOOTBALL, FUTBOL, SOCCER, BOLA SEPAK.
Sepak bola [selanjutnya disingkat bola] menjadi sebuah fenomena global yang menimbulkan efek berantai ke berbagai sendi kehidupan manusia seantero dunia. Politik, ekonomi, sosial, budaya, dan bidang-bidang lain. George Weah dan Silvio Berlusconi misalnya, mengecap ketenaran, menghimpun massa, dan merintis pilar politiknya dengan berbasiskan para penggila bola di negaranya. David Beckham, Allesandro Nesta, dan Paulo Maldini, sukses menumpuk pundi-pundi uang sripilan [sampingan;jawa] dengan berprofesi sebagai bintang iklan. Escobar dan Nurdin Khalid sukses menjadi bulan-bulanan dan lampiasan ketidak puasan para penggemar bola di negaranya, karena ketidak becusannya. [hanya bedanya, escobar mati dan nurdin "belum" mati]
Coba kita bayangkan, bagaimana mungkin kita [kaum lelaki, terutama lelaki Indonesia] menjadi tersihir dan tergila-gila kepada sebuah tim sepakbola, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita. Saya analogikan diri saya sebagai permisalan. Tim jagoan saya ada tiga -dari saya lahir sampai saya mati nanti- AC Milan, Timnas Jerman dan Timnas Indonesia.
Saya mulai dari AC Milan. Dulu saya suka AC Milan karena disana ada Oliver Bierhoff. Sundulannya yahud, tendangannya maut. setiap kali Milan main, entah itu jam 9 malem, jam 11 malem, ato jam 3 Pagi, pasti saya tonton. Setelah Oliver Bierhoff pindah dari AC Milan, berarti “seharusnya” hilang pula alasan saya untuk menggila-gilai klub sepakbola Italia berjuluk “ill diavollo rosso” itu. Tapi entah kenapa, saya bukan mengikuti kiprah Oliver Bierhoff-nya tapi justru kiprah AC Milannya. Mungkin karena Bierhoff pindah ke klub gurem, kalo Bierhoff pindah ke Madrid, Juve, atau Arsenal mungkin bakal lain ceritanya. Dilihat dari alasan awal, jelas sudah tidak match lagi kenapa saya tetep menggilai AC Milan, dan dilihat dari hubungan kausalitas/sebab akibat, hal itu menjadi lebih absurd lagi.
Kemudian Timnas Jerman, alasannya pun sama. Saya suka Jerman karena disitu pun ada Olliver Bierhoff pada awal mulanya. Dan kalau tidak salah kebetulan pas saya mulai suka bola, bertepatan dengan akan dimulainya Piala Dunia Prancis 1998. World Cup Prancis 1998-lah ajang sepakbola antar negara yang pertama kali dalam seumur hidup saya yang saya nikmati total, seluruh game dan babak.
Ketika itu Jerman melaju hingga babak semifinal, dimana akhirnya Jerman terkalahkan oleh Kroasia pada perebutan tempat ketiga, Pameo “bola itu bundar” ternyata masih berlaku,sehingga Jerman yang secara materi dan skill pemain seharusnya menang, ternyata bisa kalah dengan Kroasia, yang secara hitungan matematis itu tidak mungkin. Butuh waktu satu minggu untuk melenyapkan rasa dongkol dan nestapa akibat kekalahan timnas jerman dari hati saya.
Dan akhirnya Bierrhoff pensiun dari timnas jerman, dan seharusnya pula berakhir pula rasa “cinta” saya kepada timnas Jerman itu, namun entah kenapa tetap saja saya terlanjur mencintai gaya permainan, mental “diesel” dan spirit timnas jerman hingga saat ini.
Jerman, sebuah negara di Barat benua eropa, yang bahkan kesanapun saya belum pernah, atau bermimpi bahwa buyut saya merupakan keturunan ras arya jerman pun tak pernah saya pikirkan, namun kenapa saya bisa menggila-gilai permainan tim sebuah negara yang ngga ada sangkut pautnya dengan saya? Kenapa ngga saya idolakan saja timnas Laos, yang paling ngga masih satu rumpun asia tenggara dengan Negara saya Indonesia? heran saya…??!!
Nah sekarang kita bicara yang lebih irrasional lagi, lebih absurd lagi, TIMNAS INDONESIA. Ini tim saya yang paling saya cintai lebih dari tim-tim manapun, lebih dari AC MILAN, Lebih dari TIMNAS JERMAN.
Mencintai Timnas Sepakbola Indonesia adalah keputusan yang paling tidak logis yang pernah saya ambil, keputusan yang paling tidak rasional, paling absurd, paling emosional. Keputusan yang saya tahu bahwa saya bakal terus tersakiti, bahwa saya bakal tidak akan pernah terpuaskan, bahwa saya harus sering-sering mengelus dada, menggantang asap, menaruh asa yang tak pasti, menunggu godot. Karena “hil yang mustahal” [meminjam istilah asmuni srimulat: red] Melihat timnas Indonesia bakal berprestasi/menuai kemenangan. Mencintai Timnas INDONESIA adalah “cinta tanpa syarat”, “cinta tulus ikhlas”, “cinta buta”
Timnas Indonesia yang kering prestasi selama lebih dari 3 dekade [bahkan lebih] dengan segala atribut bawaan yang mengikuti di belakang dunia persepakbolaan Indonesia, mulai dari Ketua Umum yang ditahan karena “jelas-jelas” korupsi, sistem kompetisi yang berubah-ubah sesuai mood dari pengurus PSSI, prestasi yang tak kunjung datang, fans yang ganas agresif dan brutal, Klub-klub yang tidak profesional di Liga Indonesia yang selalu membutuhkan kucuran dana APBD dari pemerintah daerah, sampai pada pemain-pemain yang tidak disiplin, itu adalah realita dan faktanya.
Tetapi apapun faktanya, saya cinta Timnas Indonesia. Mulai dari jaman Kurniawan, Miro Baldo Bento, Bambang Pamungkas,erol FX Iba, Ponaryo astaman, Boas T Sallosa, sampai sekarang si Atep. karena cinta saya ke Timnas Indonesia adalah “cinta tanpa syarat”.

cinta saya kepada sepak bola adalah cinta yang tak saling membelit…
pamer tulisan ah….
REPOST!
*keplak ipung*
pecinta panti jompo yang lengobh….
hwuasem..bubar-bubar !!
*sapu2 arya, zen, aliy meng stadion lebak bulus*
hmmmm….laki2 memang tidak bisa dipisahkan dengan bola
apa kabar? lama tidak mengobrol ^_^
gelepung… bol bol.. bolaaaah..
aku ga ngikuti karna emg ga gitu suka karna ga gitu aja..
:p
aku cinta timnas pasa jamannya ribut waedi, ruly nere, ponirin meka.
sekarang puyeng liat pada berkelahi terus. belum lagi nurdin halid. pfiuh…
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Hued.