Iman Saya yang Masih Cethek
Mungkin kalau diklasifikasikan iman saya barulah sebatas iman taqlid, atau taraf iman yang paling rendah dari iman-iman yang lain. (Iman Ilmu, Iman Ayan, Iman Haq, Iman Hakekat)
Mungkin keimanan saya barulah pada tahap mengakui keberadaan Tuhan tapi tidak memiliki dasar ilmu atau argumentasi, hanya mengikuti garis keturunan keluarga saya yang sudah Islam dari sononya.
Tapi ijinkan saya berpendapat sedikit saja.
Menarik mendengar cerita tentang Cak Nun, ketika dalam sebuah da’wahnya beliau ditanya oleh audiensnya seperti ini. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?“
Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”
“Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.
“Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun.
“Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.
menarik pula mendengar penuturan dari Adiwarman Azwar Karim pada suatu kajian ba’da dhuhur. Beliau seorang ekonom syariah berkomentar. Islam itu sebenarnya tentang akhlakul karimah bukan semata soal syariah. Islam bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Tanpa hati yang terbuka tak bisa kita paksakan syariah kepada semua orang, dan kunci membuka hati itu adalah akhlakul karimah, perbuatan baik kita kepada semua orang. Contohlah para pedagang Gujarat di Nusantara, Sunan Kalijaga yang menyebarkan Islam di Tlatah Jawa, kaisar Cheng Ho dari Cina, mereka semua mengedepankan akhlakul karimah dalam dawahnya.
Mendefinisikan suatu “kesalehan” bukan berarti hanya sebuah kesalehan pribadi vis a vis antara kita dengan Gusti Allah. Kesalehan juga meliputi kesalehan sosial, bagaimana membina hablumminannas hubungan sesama manusia.
Islam adalah agama yg penuh dengan konteks-konteks humanisme, bukan hanya berupa sanksi dan pahala yg di artikan secara dangkal oleh beberapa fanatis buta. (walaupun saya pun bukan/belum menjadi pemeluk yg taat, tapi saya mencoba)
untuk menggambarkan islam yg penuh dengan nilai-nilai sosial tidak hanya melulu masalah-masalah iman:
Pertama, Filosofi rukun islam.
Setelah kita diminta bersyahadat dalam rukun pertama sebagai dasar keimanan kita kepada Allah, kemudian untuk apa, untuk kita “berhaji” seperti dalam rukun ke lima. Berhaji, bersosialisasi dengan berjuta-juta umat yg lain dalam kondisi yg sama, kain putih yang sama, waktu yg sama, tempat yang sama, ibadah yg sama.
Kedua, Filosofi sholat.
Ketika kita awali dengan takbir mengagungkan Asma Allah sebagai yang “Maha Besar” sebagai awalan dasar semangat kita beragama, kemudian kita akhiri sholat kita dengan salam, mendoakan keselamatan kepada teman, kerabat, sahabat, dengan menengokkan kepala ke samping kanan dan samping kiri kita,dan bergumam “semoga keselamatan selalu tercurah padamu kawan”
Ketiga, Bulan Ramadhan.
Bulan Ramadhan ini pun mengandung beberapa filosofi humanisme. kita awali bulan Ramadhan ini dengan berpuasa, ibadah yang hanya kita dan Tuhan yang mengerti, menguji kejujuran kita, bukan di hadapan manusia, tetapi di hadapan Gusti Allah, dan pada akhirnya akhir Ramadhan kita tutup dengan berzakat, berbagi dengan sesama umat, untuk coba diangkat dan diberi dorongan kembali.
emm, bukan berarti saya melebih-lebihkan agama saya. saya pikir kok ya, konteks agama, entah apapun itu ya sama, bukan mengajarkan anarkisme, vandalisme, “chauvinisme agama” buta, tetapi sebagai Rakhmatan lil alamin. Semua agama mengajarkan kepada umatnya untuk berbuat baik kepada semua makhluk. Karena itulah substansi dari apa itu agama.
Jadi, jangan hanya meratakan dahi diatas sajadah,ulurkan tangan dan singsingkan lengan untuk kesejahteraan umat, mari !

mari…
kalo soal membantu sesama manusia sih udah urusan hati. its not about GOD
seperti kata Dewa, kalo Surga ga ada,..apa masih mau beribadah?
tumben kowe iso merenung
Hihihihi.. isinya berat.. tapi suka banget bacanya.. jadi inget sama diri sendiri.. buat ipung? lanjuuuuuutttt
keren banget ceramah jumat ini. sayang updatenya sebulan sekali…
nek nggo aku mungkin diwalik:jangan hanya singsingkan lengan mikirin orang lain, tp kapan meratakan dahi di atas sajadah?
hehehehe….