Merdeka, Braga, Asia Afrika
Selepas menyelesaikan pekerjaan yang diamanatkan, saya kembali dari menemani kawan-kawan memperoleh data dari kantor regional kami di Kota bandung.
Makan malam bersama sebentar di warung c’mar yang selalu menyapa para pelanggannya ketika akan membayar dengan sapaan “kasep” atau “geulis”, lalu kembali ke penginapan di sekitaran Jalan Merdeka.
Mandi air hangat ternyata berhasil untuk melepaskan penat duduk di kantor seharian. merokok satu dua batang dan malam terasa belum terlalu lama menjelang.
Saya termasuk orang yang jarang berkunjung ke kota bandung, masih bisa dihitung dengan jari kunjungan saya ke kota yang dijuluki “parisj Van Java ini.
Bandung merupakan salah satu kota yang menurut saya memiliki eksotisme dan “gaya”nya sendiri yang khas. Seperti layaknya Jogja yang ramah, Bandung adalah kota yang ber “gaya.”
Pukul 21.45 saya lihat waktu menunjukkan. Melihat keluar jendela, malam yang cerah pikir saya. saya ambil topi “om pasikom” saya dan saya putuskan berjalan sendirian di malam sabtu di kota bandung.
Keluar dari penginapan berbelok ke arah kanan menuju perempatan besar, lalu berbelok lagi ke arah kiri. Menyalakan rokok sebentar sebatang sebelum menyeberang jalan.
Saya suka berjalan, melakukan apa yang kata beberapa orang “walking tour.” Berjalan sendirian di malam hari mengamati detail yang kadang tak terlihat karena tersamar oleh kecepatan menggunakan kendaraan.
Berjalan kaki terkadang dapat mengungkap detail yang lebih terlihat dibanding dengan menggunakan kendaraan. grafiti yang terlukis di dinding-dinding kota, meja dengan taplak putih dan dua kursi di balik tralis besi sebuah gedung tua yang terlihat sepi, Pengemis yang kelelahan dan tertidur di depan sudut gelap di malam yang dingin, dan detail-detail lainnya.
Setelah melewati beberapa gedung tua dan kantor walikota, tak terasa jalan Braga terlihat di depan saya.Lanscape jalan yang khas peninggalan jaman kolonial belanda. Gedung-gedung tua yang berlumut dan menghitam, bercampur dengan pendar lampu neon, perempuan-perempuan bergincu tebal dan rok pendeknya, dan satu dua peminta minta yang memelas di depan toko kelontong 24 jam.
Braga di waktu malam, terlihat temaram. Dentang musik kelab yang berdentam, terdengar kontras dengan gedung-gedung tua yang terkesan tenang.

Gb1 : Braga di waktu malam

Gb2 : Braga tempo dulu

Foto jadulnya keren banget!
bandung: hmm…. awewe!!
ayo impromptu par 3 kita ke bandung
*latian nyetir euy*
historical sekali… cerita sejarah memang indah
ho ho asyiknya jalan jalan
wahhhh…jl braga emang ga ada matinya…
apalagi klo malem hari…
*aku juga barusan dr situ*
ini kali kedua saya mampir ke blog-nya mas pung..
di tiap artikel yang mas pung tulis pasti ada background historical-nya..
hebat! mantab!
observe N googling materi dulu baru mulai ngetik yaaa?
mmm…jadi pengen bisa nulis kaya gini..
[vivi yang baru belajar "nge_blog"]