Merapi – Jogja, Destinasi Sebelum Pergi (I)


2012-09-29-063

Jadi awal ceritanya adalah saya ada waktu selama satu bulan sebelum pergi meninggalkan ibu pertiwi. Ada beberapa tujuan dan aktivitas yang saya niatkan untuk datangi/lakukan sebelum berpisah dengan tanah air. Perlu dilakukan karena takut nanti kangen keterlaluan dan resah berkepanjangan di negeri orang, bila tidak kelakon.

Tujuan yang pertama adalah Jogja dan juga Merapi-nya. Bertiga bersama teman-teman pendaki “tua” saya niatkan mendaki Merapi malam hari. Cuaca sedang cerah malam itu. Purnama sedang bulat-bulatnya, dan cahayanya sedang terang-terangnya. Selalu menyenangkan mendaki gunung. Berjalan, merebus air dan menjerang kopi, mengobrol apa saja sambil menunggu fajar pagi.

Setelah mendaki, kami berpisah. Teman-teman kembali ke Purwokerto, saya menginap semalam di Jogja menunggu kereta esok hari. Jogja selalu menyenangkan. Menginap di penginapan kecil di Sosrowijayan, jalan-jalan ke Beringharjo dan sekitaran Malioboro sampai alun-alun kidul. Ngobrol gayeng sama mbok-mbok gudeg di pagi hari. Begadang di angkringan LekMan, atau ngopi-ngopi di kedai kopi sekitaran.

Jadi, Jogja memang selalu menyenangkan, susah rasanya ngga kangen sama Jogja.

2012-09-29-070

2012-09-29-054 2012-09-29-039 2012-09-29-060 2012-09-29-073 2012-09-30-122 2012-09-30-115 2012-09-30-116 2012-09-30-119

NB: Semua gambar dan video footage diambil menggunakan Nokia 603 (bukan posting berbayar)

Sekolah Lagi (2)


0512605d959b95455adbccf1e0f633a5

Singkat cerita setelah kebetulan mendapatkan beasiswa ini, tugas selanjutnya adalah mencari universitas. Berbeda dengan beasiswa yang lain yang biasanya “G to G” (seperti Fulbright, Stuned, ADS, atau Monbukagakusho) beasiswa saya asalnya bukan dari negara donor tapi dari sebuah organisasi internasional, sehingga skemanya agak berbeda, memiliki kelebihan dan juga  kekurangan.

Kekurangan utamanya, beasiswa SPIRIT karena bukan “G to G,” maka hampir semua proses administrasi seperti pendaftaran, pembayaran, korespondensi, imigrasi dan lain-lain harus diurus sendiri. Jika beasiswa lain mendapat fasilitas bantuan pengurusan dari negara yang bersangkutan, beasiswa saya tidak.

Pemberi beasiswa hanya memberikan batasan-batasan apa yang boleh dan apa yang tidak. Berapa batasan biaya yang bisa diberikan, apa bidang studi yang boleh diambil, universitas peringkat berapa saja yang bisa dipilih, dan berapa lama studi yang boleh ditempuh.

Namun selain kekurangan, SPIRIT juga memiliki kelebihan, utamanya adalah fleksibilitas. Kami diperbolehkan memilih universitas di mana saja, asal sesuai dengan batasan-batasan yang sudah ditentukan sebelumnya.

Total 29 surat lamaran saya ajukan. Dari Australia sampai Swedia, dari Singapura sampai Amerika, semua saya kirim. Hasilnya beberapa memang ada yang diterima dengan syarat yang harus dipenuhi lebih lanjut dengan memberikan conditional letter, tapi sebagian besar ditolak! Hanya dua universitas yang akhirnya mau menerima dengan menerbitkan unconditional letter sebagai calon mahasiswa, Leeds (UK) dan Flinders University (AUS).

Awalnya saya ingin meneruskan sekolah di Belanda atau Amerika Serikat. Untuk yang pertama aplikasi saya terkendala masalah  pemilihan bidang studi. Jurusan yang saya ambil tidak linear dengan jurusan S1 sebelumnya.  Universitas di Belanda (yang saya daftar) tidak memperbolehkan hal tersebut. S1 saya Hukum sedangkan untuk S2 rencananya hendak mengambil Master of Public Administration.

Untuk Amerika Serikat, dari banyak universitas yang saya lamar, semuanya dengan sukses menolak, ada beberapa universitas yang belum memberikan jawaban, tapi responnya terlalu lama.

Mendaftar universitas Amerika Serikat ditengah tahun juga memberi tantangan tersendiri. Karena harus mengikuti jadwal pemberi beasiswa yang sangat mepet, pilihan universitas yang bisa didaftar terbatas. Enrollment universitas Amerika Serikat waktu itu rata-rata sudah hampir tutup. Universitas di sana biasanya menyelenggarakan penerimaan mahasiswa di bulan September (fall semester). Tidak banyak universitas yang menerima mahasiswa di luar fall semester.

Batasan waktu pemberi beasiswa yang hampir berakhir dan jadwal enrollment universitas di Amerika Serikat yang mepet, membuat saya berpikir realistis. Daripada menunggu godot yang tak pasti, lebih baik fokus pada universitas yang sudah jelas-jelas menerima. Setelah berpikir dan berdiskusi dengan banyak kawan, saya memilih berkuliah di Australia yang memiliki waktu  belajar lebih lama (dua tahun) dibanding di Inggris (satu tahun).

Satu malam sebelum batas waktu berakhir, saya sudah ikhlas untuk melepaskan harapan melanjutkan studi di Amerika Serikat. Australia-pun pilihan yang baik, begitu batin saya.

Sebelum tidur, saya susun rencana untuk keesokan hari. Yang utama adalah menuju kantor konsultan pendidikan Australia, untuk mendaftar ulang dengan menandatangani surat penerimaan. Sekali surat ditandatangani berarti saya sudah tidak dapat mundur lagi.

Keesokan paginya saya bangun. Sehabis sholat Subuh, saya iseng menghidupkan komputer, menyalakan aplikasi pemutar musik digital. Sambil mendengarkan lagu, saya buka email. Di kotak masuk ada satu email baru dari Northeastern University (US) berjudul: “Decision Available Northeastern University.” Jantung saya berdebar, saya klik email tersebut, saya baca.

Ternyata isi email itu adalah pemberitahuan dari sidang senat universitas tentang keputusan atas aplikasi lamaran saya. Berdasarkan email tersebut, saya dinyatakan diterima!

Di balkon depan kamar kosan pagi-pagi buta, pikiran saya tiba-tiba kosong, masih belum bisa mencerna berita tersebut saking kagetnya. Setelah lumayan lama terdiam baru saya sadar, lalu menelpon ibu di kampung.

Dari dalam kamar, backsound lagu “Musim berburu”-nya Netral, terdengar.

(Bersambung)

Disclaimer: Informasi dan keterangan yang terdapat dalam posting ini adalah berdasarkan pengalaman saya pribadi, tidak mencerminkan pandangan pihak-pihak lainnya.

Sekolah Lagi (1)


8451018035_af0eceedb8_c

Ini mungkin bukan murni an-sich cerita tentang perjalanan, sebagaimana cerita-cerita dalam blog ini, tapi bolehlah sekali-kali saya bercerita hal lainnya.

Cerita dimulai beberapa tahun yang lalu, ketika sedang mengobrol dengan Bapak malam-malam di ruang keluarga rumah Purwokerto. Waktu itu saya sedang pusing-pusingnya menyelesaikan skripsi.

Malam itu bapak bercerita tentang bagaimana ia bersyukur bisa menamatkan sarjana S1-nya dulu. Walau kala muda bapak cukup bengal dan walau memakan waktu yang lebih lama dari temannya yang lain, pada akhirnya beliau bisa lulus juga. Beliau bersyukur bisa ikut membahagiakan kakek-nenek, yang tidak tamat sekolah, tapi bisa menyekolahkan anak-anaknya (9 orang) sampai selesai lulus sarjana.

Bapak beranggapan, salah satu tolak ukur keberhasilan orang tua adalah bisa menyekolahkan anaknya lebih tinggi dari tingkat pendidikan mereka. Saya mengerti, bapak sedang tidak memberi tekanan, beliau hanya berusaha memberi semangat dan motivasi kepada anaknya, tapi tetap saja ceritanya membuat perut saya mules. Bagaimana tidak, Bapak sudah menyelesaikan kuliah S2-nya, sedang saya, skripsi S1-pun belum kelar waktu itu. Saya cuma bisa tersenyum kecut.

Tahun demi tahun berganti, beberapa hal terjadi. Saya lulus kuliah lalu merantau ke Jakarta, Bapak meninggal, Ibu serta adik-adik tetap tinggal di Purwokerto. Dalam kesibukan bekerja di Jakarta, diam-diam saya masih ingat pesan bapak tersebut, sehingga saya niatkan untuk bisa melanjutkan sekolah kembali, dengan biaya saya sendiri.

Empat kali saya mendaftar di Universitas paling top di Republik ini tapi empat kali pula saya gagal. Biaya pendaftaran yang tidak bisa dibilang murah, membuat saya harus menyisihkan gaji yang tidak besar untuk bisa membayar tes ujian masuknya. Ketika Suatu saat hampir menyerah, saya mengadu kepada Ibu,  “Bu, saya ujian berkali-kali kenapa tidak lulus-lulus, Apa ngga usah lanjut sekolah saja ya?” Ibu saya hanya menjawab singkat dalam bahasa jawa yang intinya: “Sabar saja, mungkin ada hikmahnya, tak doakan kamu mendapat sekolah yang lebih baik.” Ketika itu saya cuma bisa mengamini saja.

***

Kesempatan itu datang ketika suatu saat teman kantor memberitahukan adanya ujian seleksi beasiswa khusus untuk PNS (saya PNS yang bekerja di salah satu Kementerian Republik) dari sebuah lembaga donor, nama beasiswanya “SPIRIT” (Scholarship Program for Strengthening the Reforming Institution,) saya ikut.

Ada lima tahapan tes yang harus saya lalui untuk bisa lolos beasiswa ini. Pada tiap tahapannya, peserta tidak mendapat informasi tepat, mengenai kapan pengumuman lolos tiap tahapan dikeluarkan sehingga peserta harus harap-harap cemas, dipanggil atau tidak ke tes selanjutnya.

Tes pertama saya lolos tapi saya tidak mau terlalu berharap karena saya anggap cuma kebetulan. Tes kedua saya juga lolos, mulai sedikit berharap. Pada tes keempat saya mulai takut berharap, karena kalau saya gagal ketika sudah sejauh ini pasti rasanya berat. Tes terakhir saya pasrah! Saya masih ingat, selepas wawancara tes terakhir mengirim pesan pendek kepada Ibu, memohon restu dan doa. Ibu hanya menjawab singkat “Insya Allah, aamiin.”

Waktu itu awal tahun 2012, sudah hampir satu bulan dan juga sudah hampir lupa, saya mendapat surat dari fungsi kepegawaian kantor. Tidak memiliki firasat apa-apa, hanya menduga bahwa itu hanya surat disposisi biasa dari atasan kepada anak buah untuk mengerjakan suatu tugas.

Surat saya buka, isinya mengumumkan bahwa berdasarkan hasil keputusan pemberi beasiswa, saya beserta delapan orang lainnya dari kantor dianggap cakap dan lolos seleksi beasiswa!

(bersambung)

Mudik, Perjalanan Kembali


“Homeland” by Hifatlobrain

Muhammad Sobary dalam sebuah tulisannya mengibaratkan mudik sebagai sejenis perjalanan ke tanah “suci”.  Dimana di tanah suci itu kita berusaha menyambung kembali akar-akar yang selama ini terputus. Dan bertautnya kembali akar-akar yang terputus itu membawa suasana baru yang menciptakan rasa damai, ketenangan dan harmoni.

Mudik itu sendiri pada dasarnya adalah sebuah perjalanan, perjalanan pulang kembali ke tanah tempat kita berasal. Pulang untuk mengadukan nasib kepada ibu dan mendapat penghiburan, meminta restunya yang bisa membasuh luka-luka jiwa selama di rantau, atau mencari api semangat untuk menyalakan kembali daya hidup dan energi budaya yang baru.

Bagi saya, tidak ada perjalanan yang lebih kolosal dan berkesan daripada perjalanan macam ini. Sebuah perjalanan yang dilakukan bersama dengan pejalan-pejalan yang lain menuju satu titik yang sama, titik awal yang menyatukan, sebelum semua berpencar.

Selamat mudik kawan, berhati-hati semoga selamat sampai tujuan.

Jakarta, akhir Ramadan 1432 H.

*terinspirasi kembali dari tulisan muhammad sobary – “kembali ke tanah suci”
Tagged , , , , ,

Kebhinekaan Kopi Indonesia dalam Film Dokumenter


Tahukah anda, kopi Indonesia sungguh sangat beragam, seberagam manusia yang tinggal di bumi nusantara-nya. Dari Sumatra sampai Papua, ada beragam varian kopi yang memberikan sensasi yang unik untuk dicecap rasanya atau sekedar dihirup bau kopinya. Continue reading

Tagged , , , ,

Wisata Religi Masjid di Jakarta


Sejak saya lulus kuliah dan memutuskan merantau ke Jakarta, saya mempunyai kebiasaan  berkeliling dari masjid ke masjid di bulan Ramadan untuk berbuka puasa bersama dan/atau shalat taraweh. Niat awalnya karena ingin menikmati tajil dan menu buka puasa gratisan yang disediakan ta’mir masjid, maklum anak kosan. Continue reading

Tagged , , , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 48 other followers

%d bloggers like this: