
Singkat cerita setelah kebetulan mendapatkan beasiswa ini, tugas selanjutnya adalah mencari universitas. Berbeda dengan beasiswa yang lain yang biasanya “G to G” (seperti Fulbright, Stuned, ADS, atau Monbukagakusho) beasiswa saya asalnya bukan dari negara donor tapi dari sebuah organisasi internasional, sehingga skemanya agak berbeda, memiliki kelebihan dan juga kekurangan.
Kekurangan utamanya, beasiswa SPIRIT karena bukan “G to G,” maka hampir semua proses administrasi seperti pendaftaran, pembayaran, korespondensi, imigrasi dan lain-lain harus diurus sendiri. Jika beasiswa lain mendapat fasilitas bantuan pengurusan dari negara yang bersangkutan, beasiswa saya tidak.
Pemberi beasiswa hanya memberikan batasan-batasan apa yang boleh dan apa yang tidak. Berapa batasan biaya yang bisa diberikan, apa bidang studi yang boleh diambil, universitas peringkat berapa saja yang bisa dipilih, dan berapa lama studi yang boleh ditempuh.
Namun selain kekurangan, SPIRIT juga memiliki kelebihan, utamanya adalah fleksibilitas. Kami diperbolehkan memilih universitas di mana saja, asal sesuai dengan batasan-batasan yang sudah ditentukan sebelumnya.
Total 29 surat lamaran saya ajukan. Dari Australia sampai Swedia, dari Singapura sampai Amerika, semua saya kirim. Hasilnya beberapa memang ada yang diterima dengan syarat yang harus dipenuhi lebih lanjut dengan memberikan conditional letter, tapi sebagian besar ditolak! Hanya dua universitas yang akhirnya mau menerima dengan menerbitkan unconditional letter sebagai calon mahasiswa, Leeds (UK) dan Flinders University (AUS).
Awalnya saya ingin meneruskan sekolah di Belanda atau Amerika Serikat. Untuk yang pertama aplikasi saya terkendala masalah pemilihan bidang studi. Jurusan yang saya ambil tidak linear dengan jurusan S1 sebelumnya. Universitas di Belanda (yang saya daftar) tidak memperbolehkan hal tersebut. S1 saya Hukum sedangkan untuk S2 rencananya hendak mengambil Master of Public Administration.
Untuk Amerika Serikat, dari banyak universitas yang saya lamar, semuanya dengan sukses menolak, ada beberapa universitas yang belum memberikan jawaban, tapi responnya terlalu lama.
Mendaftar universitas Amerika Serikat ditengah tahun juga memberi tantangan tersendiri. Karena harus mengikuti jadwal pemberi beasiswa yang sangat mepet, pilihan universitas yang bisa didaftar terbatas. Enrollment universitas Amerika Serikat waktu itu rata-rata sudah hampir tutup. Universitas di sana biasanya menyelenggarakan penerimaan mahasiswa di bulan September (fall semester). Tidak banyak universitas yang menerima mahasiswa di luar fall semester.
Batasan waktu pemberi beasiswa yang hampir berakhir dan jadwal enrollment universitas di Amerika Serikat yang mepet, membuat saya berpikir realistis. Daripada menunggu godot yang tak pasti, lebih baik fokus pada universitas yang sudah jelas-jelas menerima. Setelah berpikir dan berdiskusi dengan banyak kawan, saya memilih berkuliah di Australia yang memiliki waktu belajar lebih lama (dua tahun) dibanding di Inggris (satu tahun).
Satu malam sebelum batas waktu berakhir, saya sudah ikhlas untuk melepaskan harapan melanjutkan studi di Amerika Serikat. Australia-pun pilihan yang baik, begitu batin saya.
Sebelum tidur, saya susun rencana untuk keesokan hari. Yang utama adalah menuju kantor konsultan pendidikan Australia, untuk mendaftar ulang dengan menandatangani surat penerimaan. Sekali surat ditandatangani berarti saya sudah tidak dapat mundur lagi.
Keesokan paginya saya bangun. Sehabis sholat Subuh, saya iseng menghidupkan komputer, menyalakan aplikasi pemutar musik digital. Sambil mendengarkan lagu, saya buka email. Di kotak masuk ada satu email baru dari Northeastern University (US) berjudul: “Decision Available Northeastern University.” Jantung saya berdebar, saya klik email tersebut, saya baca.
Ternyata isi email itu adalah pemberitahuan dari sidang senat universitas tentang keputusan atas aplikasi lamaran saya. Berdasarkan email tersebut, saya dinyatakan diterima!
Di balkon depan kamar kosan pagi-pagi buta, pikiran saya tiba-tiba kosong, masih belum bisa mencerna berita tersebut saking kagetnya. Setelah lumayan lama terdiam baru saya sadar, lalu menelpon ibu di kampung.
Dari dalam kamar, backsound lagu “Musim berburu”-nya Netral, terdengar.
(Bersambung)
Disclaimer: Informasi dan keterangan yang terdapat dalam posting ini adalah berdasarkan pengalaman saya pribadi, tidak mencerminkan pandangan pihak-pihak lainnya.
Like this:
Like Loading...